Tinjauan Hukum Khitan Perempuan dan Pelaksanaannya di Rumah Sunat dr. Mahdian

Meski sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tentang khitan perempuan, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahuinya. Seringkali khitan perempuan disalahartikan dengan tindakan mutilasi alat genital perempuan. Faktanya kedua tindakan tersebut berbeda dari tata cara pelaksanannya dan alat yang digunakan. Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini, akan dibahas mengenai tinjauan hukum khitan perempuan di Indonesia dan pelaksanaannya.

Apa Itu Khitan Perempuan?

Khitan perempuan berdasarkan syariat Islam dan dari sisi medis, adalah tindakan menorehkan clitoral hood (kulit penutup klitoris).

Clitoral hood atau disebut juga preputium clitoridis atau clitoral prepuce adalah lipatan kulit yang mengelilingi dan melindungi clitoral glans (batang klitoris). Lipatan kulit ini berkembang sebagai bagian dari labia minora dan fungsinya mirip dengan kulup penis (biasa disebut prepusium) pada penis laki-laki.

Jadi klitoris terdiri dari glans (batang) klitoris atau yang dikenal oleh orang awam dengan “klitoris” saja dan clitoral hood yang merupakan kulit pembungkusnya.

Apa Tujuan Khitan Perempuan?

Sebagian besar tindakan khitan perempuan lebih didasarkan pada penegakan syariat, terutama dikalangan muslim. Namun, apabila ditinjau dari segi hukumnya, para ulama fiqih memiliki perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan wajib, tidak wajib, dan ada juga yang memandang itu pemuliaan atas perempuan.

Layaknya tindakan khitan pada lelaki, khitan perempuan bertujuan mencegah penumpukan smegma atau kotoran berwarna putih di klitoris.

Meski memiliki tujuan yang sama, khitan perempuan dan khitan laki-laki memiliki cara yang berbeda. Pada khitan perempuan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hanya dilakukan dengan cara menorehkan lapisan kulit yang menutupi klitoris, sementara pada laki-laki adalah tindakan medis untuk membuang kulit yang menutupi kepala penis.

Khitan perempuan menggunakan jarum yang steril, pada khitan laki-laki menggunakan metode sunat Mahdian klem ataupun gun stapler.

Perbedaan lainnya, khitan perempuan hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis perempuan sementara khitan pada laki-laki dilakukan oleh tenaga medis laki-laki. Usia khitan perempuan  ada batasannya yaitu 0-6 tahun, sementara pada laki-laki bisa sampai dewasa.

Hukum Khitan Perempuan 

Banyaknya salah pengertian mengenai khitan perempuan dan menimbulkan kontra, sehingga membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa praktik khitan perempuan di Indonesia berbeda dengan metode ekstrem mutilasi alat kelamin perempuan atau female genital mutilation/cutting (FGM/C).

Adanya larangan praktik khitan perempuan akhirnya membuat Kemenkes menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 2010 yang mengatur tentang praktik khitan perempuan.

Permenkes ini memberi izin kepada tenaga medis seperti dokter dan bidan untuk melakukan khitan perempuan, serta mengatur rinci tentang metode khitan perempuan.

Berdasarkan Permenkes tersebut, khitan dilakukan dengan menorehkan kulit yang menutupi bagian depan klitoris dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai dari sisi mukosa (selaput) ke arah kulit, tanpa melukai klitoris.

SOP Hukum Khitan Perempuan Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan

Rumah Sunat dr. Mahdian sebagai klinik khusus khitan yang memiliki layanan Khitan Perempuan, memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 1636/MEN-KES/PER/XI/2010, Pasal 4, yaitu:

  • Pelaksanaan khitan perempuan dilakukan dengan persyaratan:
  1. Di ruangan yang bersih
  2. Tempat tidur/meja tindakan yang bersih
  3. Alat yang steril
  4. Pencahayaan yang cukup
  5. Ada air bersih yang mengalir
  • Pelaksanaan khitan perempuan dengan prosedur tindakan sebagai berikut:
  1. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir selama 10 menit
  2. Gunakan sarung tangan steril
  3. Pasien berbaring telentang, kaki direntangkan secara hati-hati
  4. Fiksasi pada lutut dengan tangan, vulva ditampakkan
  5. Cuci vulva dengan povidon iodin 10 %, menggunakan kain kasa
  6. Bersihkan kotoran (smegma) yang ada diantara frenulum klitoris dan glan klitoris sampai bersih
  7. Lakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris)
  8. Menggunakan ujung jarum steril sekali pakai berukuran 20G-22G dari sisi mukosa ke arah kulit, tanpa melukai klitoris
  9. Cuci ulang daerah tindakan dengan povidon iodin 10 %
  10. Lepas sarung tangan, dan
  11. Cuci tangan dengan sabun dengan air bersih yang mengalir

 

Mengutip pertimbangan dalam  Permenkes 1636/2010 ini, diharapkan peraturan ini dapat memberikan perlindungan pada perempuan dengan pelaksanaan khitan perempuan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan agama, standar pelayanan, dan standar profesi untuk menjamin keamanan dan keselamatan perempuan yang dikhitan.

 

baca juga: Khitan Perempuan Berbeda dengan Mutilasi Genital Perempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Raya Jatiasih No. 7, Jatiasih – Kota Bekasi 17423

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-8242-0020

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now