Khitan Perempuan Dewasa, Perlukah? Temukan Jawabannya!

Khitan perempuan dewasa, tidak diperlukan. Praktik khitan perempuan masih menjadi kontroversi bagi kebanyakan masyarakat di dunia. Pasalnya, seringkali tindakan ini dikaitakan dengan mutilasi genital perempuan/ female genital mutilation (FGM) yang dilarang oleh WHO.

Di beberapa negara, FGM dilakukan pada anak-anak maupun dewasa. Lalu, apakah benar khitan perempuan berkaitan dengan FGM?

Apa itu FGM?

Melalui situs resminya, WHO menjelaskan, FGM adalah seluruh proses yang mengubah atau menyebabkan perlukaan pada genitalia eksterna perempuan karena alasan non-medis. Prosedur FGM tidak bermanfaat bagi perempuan.

Prosedur ini  dapat menyebabkan perdarahan dan gangguan kencing, dan dalam jangka lama bisa menyebabkan kista, infeksi, kemandulan, serta komplikasi dalam persalinan yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi baru lahir.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat empat kategori mutilasi kelamin perempuan (Female Genital Mutilation/Cutting, FGM/C).

  1. Pengangkatan sebagian atau seluruh bagian klitoris (eksisi)
  2. Pengangkatan sebagian atau keseluruhan klitoris beserta labia minora atau kulit tipis di sekeliling vagina (klitoridektomi)
  3. Penyempitan lubang vagina dengan membentuk pembungkus. Pembungkus dibentuk dengan memotong dan reposisi labia mayor atau labia minora, baik dengan atau tanpa pengangkatan klitoris (infibulasi)
  4. Semua prosedur berbahaya lainnya ke alat kelamin perempuan untuk tujuan non-medis, misalnya menusuk, melubangi, menggores, dan memotong daerah genital.

Di Afrika ada sebuah tindakan pada perempuan yang dilakukan dengan cara menghilangkan alat kelamin perempuan tersebut yang termasuk dalam tindakan mutilasi genital perempuan/ female genital mutilation/cutting (FGM/C). Organ klitoris dan alat kelamin luar dipotong, kemudian dijahit untuk mengurangi hasrat seksual wanita.

Alat yang digunakan, berupa alat tradisional yang tidak higienis seperti silet, pecahan kaca, gunting, pisau cukur atau bilah bambu.

 Khitan perempuan dalam Islam

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha:

إذا خفضت فأشمي ولا تنهكي فإنّه أسرى للوجه وأحضى للزوج

“Apabila Engkau mengkhitan wanita, sisakanlah sedikit dan jangan potong (bagian kulit klitoris) semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami. “ (H.R. Al Khatib dalam Tarikh 5/327, dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah).

Pada tahun 2008, MUI mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan tindakan khitan perempuan karena dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah. Dalam Fatwa MUI Nomor 9A Tahun 2008 tertanggal 7 Mei 2008 yang berbunyi:

“Khitan bagi laki-laki maupun perempuan termasuk fitrah (aturan) dan syiar Islam. Khitan terhadap perempuan adalah makrumah (ibadah yang dianjurkan).”

Dalam fatwanya, MUI juga menegaskan mengenai batasan dan tata cara khitan perempuan sesuai dengan ketentuan syari’at Islam, didasarkan pada petunjuk yang diberikan Nabi Muhammad SAW, menekankan 3 prinsip, yaitu:

  • Sedikit saja
  • Tidak berlebihan, dan
  • Tidak menimbulkan bahaya

Khitan perempuan dewasa tidak diperlukan

Imam al-Nawawi berkata:

“Yang benar menurut pendapat mazhab kami (Syafi’I) dan pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu, bahwa khitan boleh dilakukan ketika kecil, namun tidak wajib. Lakukan khitan ketika anak usia 7 hari atau 14 hari atau 21 hari setelah dilahirkan.”

Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili berpendapat bahwa yang lebih tepat adalah ketika usai dilahirkan (di hari pertama).

baca juga: batasan khitan perempuan

Khitan perempuan dalam hukum di Indonesia

Melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 1636 Tahun 2010, diharapkan dapat memberikan perlindungan pada perempuan yang melaksanakan khitan perempuan  sesuai dengan ketentuan agama, standar pelayanan, dan standar profesi untuk menjamin keamanan dan keselamatan perempuan yang disunat.

Dalam pelaksanaan khitan perempuan, tenaga kesehatan perlu mengikuti prosedur tindakan antara lain, cuci tangan pakai sabun, menggunakan sarung tangan dan melakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris) dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai dari sisi mukosa ke arah kulit, tanpa melukai klitoris (Permenkes 1636/2010).

 Berbeda dengan pelaksanaan di Afrika, khitan perempuan di Indonesia dilakukan berdasarkan syariat Islam dan mengikuti hukum di Indonesia yang telah diatur. Tindakan ini  dilakukan pada anak perempuan di bawah 5 tahun dengan anatomi tudung klitoris yang masih sangat tipis dan belum banyak dilalui pembuluh darah serta saraf. Tindakan ini sangat minim perdarahan. Khitan perempuan tidak dilakukan pada dewasa.

Pelaksanaannya dilakukan dengan cara menorehkan kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa menghilangkan alat kelamin perempuan. Alat yang digunakan berupa jarum steril khusus sekali pakai. Jadi, jelas sudah yang dilarang oleh WHO adalah tindakan FGM bukanlah khitan perempuan. Yang melakukan khitan perempuan haruslah tenaga medis perempuan yang berpengalaman.

baca juga: tinjauan hukum khitan perempuan di Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Raya Jatiasih No. 7, Jatiasih – Kota Bekasi 17423

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-8242-0020

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now