Metode dan Hukum Khitan Perempuan di Indonesia

Isu khitan perempuan di Indonesia masih menjadi pro dan kontra. Ada banyak dasar hukum terkait praktik khitan perempuan. Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia, pada 7 Mei 2008, ditetapkan bahwa:

  1. Sunat, baik bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk fitrah(aturan) dan syiar Islam;
  2. Sunat terhadap perempuan adalah makrumah, pelaksanaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan;
  3. Pelarangan sunat terhadap perempuan adalah bertentangan dengan ketentuan syari’ah, karena sunat, baik bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk fitrah(aturan) dan syiar Islam;
  • Namun, dalam pelaksanaannya, terhadap perempuan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Khitan perempuan dilakukan cukup dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/colum/praeputium) yang menutupi klitoris.
  2. Khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang mengakibatkan dlarar.

Khitan Perempuan Dalam Hukum di Indonesia

Praktik khitan perempuan di Indonesia diatur dalam hukum, yaitu  dalam Permenkes No.6 Tahun 2014. Disebutkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan dalam bidang kedokteran harus berdasarkan indikasi medis dan terbukti bermanfaat secara alamiah.

Faktanya, berdasarkan budaya, adat dan keyakinan masyarakat Indonesia, hingga saat ini masih terdapat permintaan untuk dilakukannya sunat perempuan. Permenkes No. 6 Tahun 2014 menegaskan bahwa pelaksanaan khitan perempuan tetap harus memerhatikan keselamatan dan kesehatan perempuan yang disunat serta dengan tidak melakukan mutilasi alat kelamin perempuan (female genital mutilation).

Permenkes 6/2014 juga mengatur tentang pemberian mandat kepada Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’k untuk menerbitkan pedoman penyelenggaraan khitan perempuan yang menjamin keselamatan dan kesehatan perempuan yang disunat serta tidak melakukan mutilasi alat kelamin perempuan.

baca juga: fenomena khitan perempuan di Indoensia

Metode Khitan Perempuan yang Aman

Sesuai Fatwa MUI dan Permenkes 6/2014, khitan pada perempuan yang aman dilakukan bukan dengan memutilasi batang klitoris atau jaringan lain di area genitalnya yang membahayakan.

Layaknya tindakan sunat pada lelaki, khitan perempuan juga bermaksud mencegah penumpukan smegma atau kotoran berwarna putih di klitoris. Selain itu, tindakan khitan pada perempuan juga bertujuan menstabilkan syahwat dan memuaskan pasangan.

Khitan perempuan dilakukan dengan metode sederhana, hanya melakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris dengan menggunakan ujung jarum steril. Jadi, bukan merusak atau menyebabkan perubahan pada vagina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Raya Jatiasih No. 7, Jatiasih – Kota Bekasi 17423

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-8242-0020

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now