Fenomena Khitan Perempuan di Indonesia

Fenomena khitan perempuan di Indonesia dilakukan karena alasan agama dan mayoritas dilakukan oleh perempuan beragama Islam. Hal ini didasari oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Population Council (2001-2003). Sementara sebagian kecil melakukan khitan perempuan karena tradisi. Namun, pada penelitian lanjutan, mayoritas melakukannya karena tradisi.

Berdasarkan data UNICEF pada tahun 2013, angka khitan perempuan di Indonesia tinggi. Tertinggi 83.7% (Gorontalo), 83.2% (Bangka Belitung), 79.2% (Banten), 78.7% (Kalimantan Selatan), 74.4% (Riau), 17.8% (Papua Barat), 10.3% (DI Yogyakarta), 6% (Bali), dan 3.6% (Papua).

Mengenal Tradisi Khitan Perempuan di Indonesia

Sebagai contoh tradisi khitan perempuan di Gorontalo khitan atau sunat perempuan yang dikenal dengan istilah cubit kodo. Tradisi ini dilakukan oleh mama biang (dukun bayi), ritual ini dilakukan secara simbolis, dengan menempelkan pisau kecil yang dibalut handuk ke klitoris.

Saraso, adalah tradisi sunat perempuan di Bima (Nusa Tenggara Barat). Saraso melibatkan pemotongan ujung klitoris anak perempuan. Apabila ada laki-laki ingin menikahi perempuan, hal pertama yang ditanyakan adalah apakah sang perempuan telah disunat atau belum.

Khitan Perempuan, Perlukah?

Dalam Islam, khitan perempuan berbeda dengan female genital mutilation (FGM) yang dilarang WHO dan sudah memiliki panduan dasar yang mencakup  tata caranya dan batasannya, seperti:

  • Tidak boleh menganiaya apalagi sampai melewati batas, yaitu penghilangan (pembinasaan) dengan cara memotong habis kelentit farji perempuan. Sehingga perempuan akan kehilangan dalam mendapati kenikmatan biologis yang disyariatkan.
  • Tidak boleh dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya. Seperti yang diyakini dan dipraktikkan oleh masyarakat pedalaman. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan, menyerahkan kepada orang yang berkompeten dalam setiap sesuatu.”
  • Tidak boleh menggunakan peralatan kecuali harus yang bersih, steril dan sesuai untuk melakukan khitan. Praktik khitan harus dilakukan di tempat yang tepat, seperti klinik/medical center.

Berdasarkan fatwa MUI menyatakan bahwa dalam pelaksanaannya, khitan terhadap perempuan harus memerhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Khitan perempuan dilakukan cukup dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/colum/prepusium) yang menutupi klitoris.
  • Khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang mengakibatkan dlarar.

Kitan Perempuan Telah Diatur Dalam Hukum

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 1636/Menkes/Per/XI/2010 tentang khitan perempuan, disebutkan bahwa sunat perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa memotong klitoris. Hal ini tidak sama dengan pengertian Female Genital Mutilation (FGM).

 

Rumah Sunat dr. Mahdian merupakan salah satu klinik khitan yang memiliki layanan khitan perempuan untuk anak usia 0-6 tahun. Menggunakan alat khitan satu kali pakai dan ditangani oleh tenaga medis perempuan. Saat ini khitan perempuan tidak hanya dapat dilakukan di klinik Rumah Sunat dr. Mahdian saja, namun Anda yang ingin mengkhitankan anak perempuannya di rumah juga bisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Raya Jatiasih No. 7, Jatiasih – Kota Bekasi 17423

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-8242-0020

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now